Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2010

Efek Samping Stres (ESS)

            Susahnya jadi orang dewasa itu banyak masalah, dan masalah itu kakak beradik dengan stres. Belakangan aku mengaku udah dewasa. Yah, paling nggak aku remajalah. Otomatis selain jenggotku makin banyak, masalahku juga ikutan numpuk.

            Kalau sudah banyak masalah plus capek, pasti bawaannya stres mulu. Dari kamar diberantakin orang nggak bertanggungjawab sampai cucian di baskom membukit. Pusing di asrama, cari angin keluar.  Di pintu asrama….. lagi-lagi sandal dikepet kampret! Terpaksa balas ngepet ke lain. Masalah madinglah (aku penanggung jawab mading. Deadline naskahlah. Kiriman ludeslah. Rambut semraut, padahal bentar lagi ada razia rambut. Belum gosok gigi. Tangan kesetrum mulu. Digosipin orang. Kalo kebanyakan makan sakit perut. Tapi kalo nggak minum malah kehausan (oke, dua yang terakhir aku bisa terima dengan lapang dada).

            Kalo udah stres, aku tuh jadi blingsatan bin bringasan. Tapi aku nggak separa Azmie. Temanku dari Negeri Puntik itu, kalo stres bisa makan orang, jadi lebih baik cepat-cepat mengungsi dari pada kena damprat.

            Kalo aku tuh orangnya sabar, ramah, dan manis. Namun sesabar, seramah dan semanis-manis apa pun orang itu pasti punya hidung, maksudku bisa marah juga. Minimal aku melampiaskan kekesalanku kepada benda mati. Salah satu targetnya adalah sandal!

            Pas lagi stres-stresnya, aku sukanya jalan ngesot. Al hasil setelah perdebatan sengit, para ulama fisika memutuskan: daya gesek antara sandal jepit dari karet dengan aspal, maka harus ada salah satu yang kalah.  Dalam kasus ini sandal lebih lunak dari pada aspal, berarti sandal keluar sebagai pekalah.

            Aku pun berduka lara setelah mengakui fatwa ulama fisika ini. Sandalku jadi lebih cepaat tipisnya. Ini ESS yang pertama. Namun sukurnya, aku sempat mengambil kesimpulan yang berharga: kestresan seseorang dapat diukur dari kecepatan menipisnya sandal miliknya.

            Pernah juga saking stresnya, aku jadi sakit perut (iyah, ngaku, tadi pagi kebanyakan makan). Tujuan selanjutnya adalah WC. Aku pun  mengenakan kostum kebangsaan. Sarung yang dipakai secara horizontal, menutupi bagian pusar ke bawah, kaos oblong, menutupi pusar ke atas, serta gayung yang tangkainya patah.

            WC terdekat dari asrama berjarak 10 meter. Namyanya WC 10, coz box-nya ada 10 buah. Tapi sayangnya di sini nggak ada operatornya, jadi mau ngapain juga nggak bakal ada yang ngeluarin. Aku jalan ngesot. Sampai WC aku masuk dan bantin pintu. Blam! (orang stres emang bawaannya gitu). Lalu terdengar bunyi-bunyian menakjubkan dan suara air, byur….byur…. Selesai.

            Aku buka pintu. Macet. Ada apa ini? Aku lebih keras narik pintnya. Tetap nggak kebuka. Aku sisipkan tangan ke celah pintu bagian atas yang renggang. Sekuat tenaga menarik, sampai-sampai kaki mendongkrak ke tembok. Pintunya masih diam. Aku pernah liat TV dan baca novel, tokohnya terperangkap di lift dan tempat keren lainnya. Tapi aku…aku…kekkunci di WC! Kenapa juga tadi pake acara banting pintu segala.

            Akhirnya pintu WC bermurah hati seusai perjuangan kerasku menarik pintu dari celah bawah. Tadi menariknya pake pose nungging, jadi pinggang encok, dan telapak tanganku memerah, hampir luka. ESS ketiga.

*****

            Malam itu aku capek banget. Baru nyelesain masang tikar asrama. Sedari siang tadi aku banyak menuai protesan atas beberapa tugasku yang mengecewakan, menurut mereka. Aku mulai pusang. Tiba-tiba aku mendadak pengen pipis (tiap stres, bawaannya ke belakang mulu. Jangan-jangan ada hubungannya?)

            Waktu itu sudah tengah malam. WC 10 itu keliatan angker banget. Habis, letaknya di pojokan sih. Lagi pula aku was-was, gimana rasanya kekunci di WC angker tengah malam begini.

            Terpaksa nyari WC lain, lebih jauh. “Mana jauh, hujan lagi!” saat itu gerimis turun. Aku jalan blingsatan di atas trotoar dari ulin, di bawahnya got. Tapi kali ini nggak ngesot, aku jalan menghentak-hentak. Bagiku bunyi derak teriakan ulin itu adalah sebuah pelampiasan dan braaak….!

            Yess, kakiku sukses nyungsup ke got. Ulinnya jebol, belubang. Landauku lecet parah dan dalam hitungan detik darah keluar lumayan banyak. Kurasakan sendi di pangkal pahaku ngilu, akibat hentakan. Aku musti meneruskan pengembaraan ke WC, mengingat ini emergency, mana mungkin aku pipis di sembarang tempat. Gerimis pun membasahi luka perih.

*****

            Belakangan ini, sesudah beberapa moment terjadi, aku melampiaskan kestresanku dengan tidur. Alasannya sederhana: lebih aman.

 

 

 

Senin, 04 Januari 2010

.
.

Na, sekarang kita sudah berada di tahun 2010. 2009 lalu menyisakan banyak hal. Tapi menurut sebagian orang mengenang adalah buang-buang waktu. Namun tidak adil rasanya jika tidak menyertakan paham yang lain: orang bijak banyak pengalamannya. Itu pun dengan catatan musti bisa mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

Ngomong-ngomong soal pengalaman, aku ada lho satu pengalaman dari hari-hari 2009, yang amat berguna di tahun 2010 ini. Sedikit nyeleweng, seperti yang telah diketahui, akhir 2009 tadi peraturan berkendara mulai dipertegas dan ditambahkan. Di antaranya lampu kendaraan musti nyala, belok kiri ikuti syarat lampu untuk di beberapa persimpangan empat dan spion harus amien (dua-duanya terpasang). Nah, aku ini kalo berkendaraan pasti bawaannya ngayal mulu. Sudah kebiasaan sih... Makanya aku sering lupa ini dan itu, termasuk menjalankan peraturan di atas.

Kalo masalah spion sih nggak papa. Soalnya spion tuh permanen, kalo dipasang ya nggak dilepas lagi. Tapi yang jadi masalah itu 'belok kiri' dan 'lampu'. Nah, dalam menghadapi era yang serba ketat ini, aku harus lebih teliti, salah satunya dalam mengamati rambu-rambu.

Pernah di suatu pagi minggu akhir bulan ramadhan 2009 lalu, aku berurusan dengan yang namanya rambu-rambu. Waktu itu aku berkendara keliling-keliling nggak karuan di area Pantai jodoh dan sekitar Masjid Sabilal Muhtadin (waktu itu belum ada hari bebas kendaraan bermesin). Tau-tau pas melintas dari Pantai Jodoh ke arah Jembatan Merdeka di samping siring Sungai Martapura yang di depan Masjid Sabilal itu, aku melihat trafficlight-nya hijau. Aha, tepat sekali, aku langsung tancap gas, kalau-kalau keburu merah lagi. Bes.... dengan kerennya aku tikung ke kanan! Sumpah, aku nggak nyadar ada rambu-rambu di larang belok kanan di samping trafficlight itu, sekaligus lupa pesan dari bokap: di sini dilarang belok kanan, jadi lurus aja dan mutar di putusan jalan di sana.

Waktu nyebrang itu, aku hampir saja tertabrak kendaraan dari jalur sebelah. Aku pun mendengus dalam hati: yang hijau kan di jalur aku, berarti di jalur dia merah, eh... main terobos aja, hampir aja ketabrak. Massin!

Tanpa sadar aku yang salah, dan tanpa sadar pula polisi yang lagi jaga di pos samping lampu lalu lintas yang kulewati tadi, mengincarku. Aku ngeloyor santai di jalan samping Sabilal, tanpa firasat apapun. Polisinya nggak ngejar dan akunya nggak merasa bersalah. Dan setelah sampai di bundaran, aku belok kanan, menuju bundaran KB dekat kediaman dinas gubernur kita.

Belum lagi melintas bundaran KB. Sekitar sepuluh meter, aku melihat sepasang remaja diberhentikan dua orang polisi, kayaknya sih ditilang gitu. Tanpa kuduga, salah seorang polisi yang menilang itu memberhentikanku juga. Aku pun berhenti tanpa perlawanan yang berarti (wes...). Dalam pikiranku, yah... palingan periksa kelengkapan surat-menyurat. Tenang, aku kan taat dengan peraturan, jadi semua persyaratan sudah kupenuhi.

Waktu aku tepat berhenti di depan polisi tadi, dia nanya temannya lewat walkie-talkie: kendaraan Juviter warna hijau, iya kan? Suara di seberang sana menyahut: iya!

Aku mulai merasakan firasat buruk. Aku telah diincar! Kenapa? Pasti ada alasannya.
"Mana STNK sama SIM kamu?" pinta polisi itu. Aku kasih.

"Kamu tadi habis lampu lalu lintas belok ke kanan kan?" Aku mengangguk.

"Itu pelanggaran. Di situ cuma boleh lurus atau belok kiri."

"Tadi nggak liat rambunya," aku nyari alasan, tapi memang beneran nggak liat kok.

"Kalau nggak percaya, coba balik lagi ke sana." Aku di suruh balik lagi. Ya, aku turutin saja, tanpa menyadari apa yang akan terjadi. STNK dan SIM-ku ditinggal di polisi tadi.

Setelah sampai aku disambut polisi berbadan gede. Lalu aku lepas helm. Polisi itu tersenyum, tapi di mataku itu sebuah 'bala'.

"Coba liat di samping lampu merah itu. Nah, adakan rambu dilarang belok kanan." Aku cuman mengangguk hambar. "Iya. Tadi nggak keliatan," kataku.

"Sekarang keliatan, nggak?Harusnya kamu hormatin rambu itu, bukan malah dilanggar. Ayo sana, beri hormat sama rambu-rambunya, kalau perlu cium sekalian."

Mati aku! Masa harus melakukan hal semacam itu di pinggir jalan. Seorang polwan tak jauh dari situ tertawa, mungkin membayangkan yang akan kulakukan.

Aku nurut saja. Aku berharap dengan ini polisinya senang dan nggak nilang.

Aku berdiri di pembatas jalan, penghalat dua jalur, dan memberi hormat ke rambu-rambu tadi dengan sok acuh sama tatapan orang-orang. Arrgh... mana pas lampu merah lagi, mobil dan kendaraan pada bertumpuk di zebra crosss, di sebelah kanan dan kiriku. Di balik punggungku melintas sekelompok cewek lagi jogging. "Ih... ada yang kena sanksi," cemooh seorang dari mereka. Ampun dah...

Seusai hormat, aku cepat-cepat kembali ke polisi tadi, tanpa nyium dulu, ingat dan camkan aku nggak nyium rambu-rambu itu!

"Ya sudah sekarang rambunya benar-benar keliatan kan? Kalau gitu balik lagi ke polisi sana dan pinta sama dia 'surat cinta' yang merah itu." Mendengar itu aku benar-benar merah, arrrggh.... akhirnya kena tilang juga. Apalagi surat yang merah itu kalau buka surat tilang.

Berkat pengalaman itu, aku menjadi lebih bijaksana dalam menikungkan kendaraan.

Rabu, 30 Desember 2009

Akhir dari Perburuan

Selama beberapa hari ini akumelakukan perburuan. Yah, mumpung lagi liburan yang berarti aku bisa leluasa ke warnet, tidak terkurung di dalam pondok. Ya, tempatku berburu memang tidak di terminal atau di Pantai Jodoh, apalagi di hutan, tapi aku berburu di warnet, dalam dunia maya.

Terhitung mulai dari hari ahad, yang kunamai sebagai 'Hari F5' (baca potingan hari F5) hingga hari ini, Kamis 31 Des. di penghujung tahun 2009, aku bertekad mengakhiri aksi perburuan ini.

Sebetulnya sewaktu hari F5 aku sudah mendapatkan buruanku di warnet Oby,net, yaitu film kambing jantan full movie yang terbagi dalam 15 file. Semuanya sikses kudonlot, tapi sayang beribu sayang, sebelum file donlotan itu ku-send to Flashdisk listriknya padam. Zeeep... dalam sekejap monitor dan kawan-kawan mati total.

Aku tak menyerah, sebab aku adalah laki-laki. Di lain waktu, Selasa 29 Des. 09 aku berburu lagi. Kali ini di eEngsty.net. Dan sukses semua file kambing jantan dalam genggamanku (baca:Flashdisk). Semua data di folder donlotan sudah ku-check, dan ternyata betul semua sudah ku-send to.

Sesampainya di rumah ku buka flashdiskku. Baik-baik saja. Kubuka folder donlotan yang kunamau Ilham. Nggak terjadi apa-apa. Kuputar satu file dari kambing jantan, bisa aja. Setelah itu ku-rename nama-nama file-nya, biar mudah ngenalinya gitu,

Setelah keluar dari folder Ilham, dan ngerapiin Folder lainnya, aku balik lagi ke folder Ilham. Dan di situ aku mendapati keanehan tersendiri. Kok, icon foldernya berubah ya... Bentuknya sih masih folder icon pada umumnya, tapi agak kecilan dan seperti dilapisi oleh kaca persegi sama sisi di permukaannya. Kucoba doubleclick. Tiktik... Kok nggak kebuka ya... Ah, mungkin kurang cepat. Lagi, tiktik... Masih nggak kebuka. Lho ada apa ini. Ato touchpad-nya rusak ya? A, nggak mungkin, slelect aja masih bisa.

Kucoba lagi klik sekali di folder Ilham, trus di-ENTER. Hah, nggak bisa dibuka juga ada apa ini. Saat itu aku deg-degan setengah hidup. Kambing jantan kan film yang sangat ingin aku tonton selama ini. Dengar-dengar sih, di bioskop kalimantan filmnya nggak diputar, cuma di pulau jawa doang. Apalagi CD or DVD-nyam, nggak ada yang jual, mau nggak mau musti donlot.

Saat-saat aku kebingungan, tiba-tiba icon folder Ilham tadi berubah lagi, metamorfosis yang lebih mengenaskan. Iconnya jadi berbentuk selembar kertas kosong (icon di windows Vista apabila file tersebut tidak bisa dibuka dengan aplikasi yang tersedia di com.). Tapi bukannya buka folder itu cuma pakai explorer, ini malah nggak bisa dibuka, barang setengah (emang ada setengah)

Aku mulai curiga ini pekerjaan siapa. Aku gerakan cursor ke folder Ilham tadi dan ternyata benar, ukuran file tersebut juga ikut berubah yang asalnya ratusan MB, jadi 4 KB doang! Sial, untuk sementara aku menduga mungkin ini perbuatan virus atau semacamnya.

Kemudian di lain kesempatan. Aku berburu lagi di warnet yang baru kukenal. Tapi di situ loadingnya bikin bete. Jadilah aku donlotannya cuma 3 file. Nggak papa lumayan, bisa nyicil.

Besoknya aku lunasi cicilanku dengan sempurna di Engsty.net, yaitu hari ini, hari Kamis 31 Desember di penghujung tahun 2009, aku akhiri perburuan film kambing jantan full movie dengan happy ending. Yeah...!

Senin, 28 Desember 2009

Ujian Kelabu

Monday, 28 Desember 2009

Hari ini ulangan terakhir. Ulangannya bangai! Bayangin semua soal yang keluar lepas dari bacaanku. Ceritanya kan kemarin pas hari ahad habis ulangan aku refresh dulu, aku manamainya hari F5, buat yang doyan ngecom pasti tahu. Biasalah jalan-jalan hunting warnet(baca postingan sebelumnya). (Flashback bentar)Makanya pas malamnya aku capek banget. Baru juga pukul 10 malam aku udah ngorok(bayi banget ya). Sebelum tidur tuh aku cuman baca-baca kitab hadist dikitan aja.

Pas pukul 3 dini hari aku kebangun. Baca dan hapal satu hadist, trus tidur lagi, kebangun lagi baca dan hapal satu lagi, trus tidur lagi, baca dan hapal atu lagi trus tidur lagi. Selalu begitu sampai kau hapal delapan hadist, pas banget bab yang diujikan kan delapan bab, jadi tiap bab diwakili oleh satu hadist. Biasanya pertanyaannya mudah: اذكرحديثامن باب تحريم الظلم! (sebutkan satu hadist dari bab haramnya berbuat dzolim) misalnya, yah tinggal tulis satu hadist selese. Atau: تمم الحديث الآتي! (sempurnakan hadist yang akan datang, maksudnya isi yang bolong-bolongnya) biasanya hadist yang disempurnakan itu juga hadist yang pertama. Jadi intinya kalau soalnya nggak kayak tadi, tamatlah aku.

Esok harinya, soal bpun dibagi. Sebelum melihat soal aku berdo’a. aku baca soal pertama. Soal ujian di sini tuh rata-rata cuman sepuluhan, tapi jangan anggap remeh pertanyaannya dalam format essai, satu soal aja jawabannya minta ampun cerewetnya.

Soal-soalnya sih aku rada-rada lupa gitu, yah kurang lebih beginilah:

Soal pertama. Ah, disuruh menyempurnakan hadist, tapi bukan hadist yang pertama. Perasaan ini sih hadist kedua tapi aku nggak hapal juga, cuman kebaca lewat doang. Yah, nggak papa cuman kecolongan satu soal, masih banyak soal yang lainnya yang menanti kejeniusan aku.

Soal kedua. Hah, menyempurnkan hadist lagi, dan lagi-lagi bukan hadist pertama yang kuhapal. Bahkan lebih parah dari soal peratama, kali ini aku malah nggak tahu kalau hadist di soal kedua ini ada di bahan ulangan. Aku agak sedikit gelisah. Tapi, ah, nggak papa, cuman kecolongan dua soal masih ada banyak soal di bawahnya lagi. Aku pun berlanjut ke pertanyaan berikuktnya.

Soal ketiga. Lho yang ditanyakan maksud dari suatu istilah yang ada di catatan kaki, biasanya letaknya di bagian bawah halaman, tulisannya kecil-kecil dan imut-imut. Biasanya tiap kali ulangan atau ujian hadist aku pasti bakal ngapalin catatan kaki. Nggak tau kenapa ulangan kali ini aku lupa ngapalnya. Udah kecolongan tiga nih. Wajahku agak berubah. Sebelumnya ini nggak pernah terjadi. Biasanya kalau nggak dapat itu di pertanyaan yang akhir-akhir. Kalau yang pertama yang mudah-mudah dan soal berikuktnya makin sulit aja. Ini baru pertanyaan yang awal-awal udah nggak dapat, apalagi seterusnya. Biar bagaimana pun aku harus tetap optimis. Yak, lanjut ke soal berikutya.

Soal keempat. Aku udah nggak tau harus berbuat apa-apa. Lagi-lagi lepas dari bacaanku. Aku mulai lepas kendali. Perasaan, aku pengen makan yang buat nih soal kurang belajar.

Soal kelima. Aku kalut. Nggak tau. Apalagi muka belakang bisik-bisik: Ham, nomor 5. Ham, nomor7.ham, nomor 2. Arrggghhh….. Manyuk-manyuk.

Soal keenam dan seterusnya aku udah nggak sanggup lagi mengenangnya, itu terlalu menyakitkan *menyeka ingus*. Kecuali soal kesepuluh, ada titik terang dikiiiiiiit bangeeeeeet.

Setelah menganalisis per mata pelajaran jawaban selama ulangan kali, aku mustahil menjadi rangking satu atau masuk tiga besar bahkan sepuluh besar. Buktinya pas ngoreksi hasil ulangan usul fiqh dah qowaid fiqh (aku n 2pren dapat kepercayaan ngoreksi. Masing-masih aku mendapat nilai 7 dan 6. Sedangkan yang lain rata-rata 8 dan 9 bahkan ada yang sampai nilai sempurna.

Mungkin sudah saatnya aku nggak rangking lagi. Jujur selama ini rangking satu nggak membuatku bangga sedikit pun kecuali pas bagi rapor. Bukan maksdunya aku sombong atau meremehkan rangking satu, tapi di situ aku benar-benar nggak nemuin kepuasan batin. Terlebih ortu, pas tau anaknya rangking satu, dia cuman ngucap Alhamdulillah, dan entah mengapa di kuping terdengar hambar.

Sangat berbeda saat aku SD dulu. Aku nggak pernah rangking. Tau-tau pas ujian kelulusan aku rangking 5. Bah, aku merasa telah mengalahkan A. Einsten. Dan lagi pas awal-awal masuk Al Falah waktu di tingakat tajhizi, semester kedua aku mendapat rangking 3. Aku yang nggak terbiasa rangking ini, merasakan suatu yang sulit dijelasin. Rasa gimana gitu.

Karirku di dunia rangking terbolak-bolik di tiga besar. Yang paling sering di 1 dan di 2. Mungkin karena sudah terbiasa rangking aku tidak meraskan apa-apa lagi. Seperti kebal gitu. Allah telah mengatur segalanya dan dia selalu memilihkan yang terbaik. Oleh karena itu aku beranggapan ada baiknya aku mampir lagi di urutan ke 13, ke 20 atau berapalah, asal jangan 10 dan 3 besar, biar ntar jika aku ada kesempatan numpang di peringkat 1 lagi, aku bisa merasakan rasa yang telah hilang itu.

07.59AM

Hari F5

Sunday, 27 Des. 09
Hari habis ulangan aku diajak ke Banjarbaru. Ya udah aku sanggupi aja. Sekalian refreshing. Biasanya kalau refresh di com tuh tekan F5, jadi aku beri nama aja hari adalah hari F5.
Aku masuk warnet OBY.net dekat UNLAM. wiuhhh.... internetnya cepat juga. Bahkan aku sampai bingung mau donlot apa lagi. Clip Sherina udah. Wannabe udah. Kambing jantan full movie juga udah. Game-game yang asik udah. nge-FB ya juga udah. Apalagi nge-blog juga udah. Menjarah di com warnet juga udah. Ah... senengnya kalau semua warnet secepat ini. Dan aku pun nunggu donlotan game yang bentar lagi selese, abis tu pindahin data donlotan ke plasdisk. Yap semua yang perlu beres.
Pas lagi nunggu donlotan tiba-tiba terjadi sesuatu di luar kepalaku (kalau dalam kepala, itu namanya sakit kepala). Sesuatu yang mengerikan sepanjang sejarah warnet, menakutkan seluruh warneter seluruh dunia, bahkan lebih menakutkan ketimbang internet yang lamban kayak jalannya semut pincang.
Arrefhdgfhdjfjlggggghhhh.... Listrik padam. Hueeekkk...(lho, kok pake acara muah?) semua data yang kudonlot tadi belum kupindah ke Fd-ku. Masih di data D!
Intinya secepat apapun warnet kalau nggak ada listrik seperti lampu nggak ada listirknya, yaitu MATOT (mati total).
PS: Aku sih ke depannya berharap kalau setiap warnet tuh punya jenset atau UPS yang bisa nyimpan listik barang lima menit, biar hal seperti ini nggak terjadi lagi. (Salah aku juga sih naro donlotannya nggak ke Fd.).

Kamis, 24 Desember 2009

Wednesday, 16 Des. 2009

Aku takut bila harus kehilangannya lagi. Benar-benar aku tak bisa membayangkan hal itu terjadi lagi. Aku bingung bakal mau apa.
Berkali-kali aku telah kehilangan dia. Padahal dia yang selalu menemaniku saat aku membutuhkannya. Dia selalu setia menungguku. Tapi aku nggak selalu bisa menunggui dia , soalnya dia senantiasa di depan pintu. Aku tak bisa menghitung atau mengira-ngira lagi, berapa banyak aku telah kehilangannya. Sungguh menyakitkan, apa lagi pas mama nanya,”Sudah sandal keberapa yang kamu hilangkan, Nak?”
Aku betul-betul lupa berapa sandal yang telah kuhilangkan yau. Yang jelas sudah mencapai puluhan pasang. Sebelum sandal itu tipis pasti keburu hilang. Malang benget yau?
Aku kan mondok di Ponpes Al Falah Banjarbaru. Di pesantren ini tuh para santrinya pada demam bola gitu. Jadi kalau pas lagi jalan kaki tuh nggak bisa diam. Ada aja yang ditendang-tendang. Keganasan kaki santri ini bis a memakan korban berupa batu, kucing lagi nyantai tiduran ato yang pas lagi pup*cyaak…* (suatu suara misterius di alas kaki, hueeek….). Tapi yang paling bikin kesal malah sandalku juga ikut menjadi korban kebiadaban itu.
Kalau nggak teliti dalam meletakkan sandal, wah bahaya tuh. Aku sering naroh sandal di pelataran asrama, pas pengen makai, lho sandalnya tinggal satu. Mana satunya lagi?
Pernah juga aku kehilangan sandal sepulang dari lab. Bahasa. Waktu itu aku menghabiskan sore di situ, soalnya nggak ada kerjaan. Mending nonton film di lab. Yup, aku nyelinap ke lab tanpa seizin dewan guru. Kan kunci lab-nya kalau nggak di aku yah, di teman lainnya, Staf OSIS gitu loh…
Pas hampir magrib aku pengen pulang dan baru sadar kalau sandalku udah nggak ada di tempatnya, huhu… dua-duanya pula. Ini pasti ada yang ngambil dengan sengaja. Belakangan aku liat lagi sandalku yang hilang itu, tapi cuman sebelah doang. Malas ah ngambilnya. Beli lagi yang baru.
Ada juga pas tengah hari aku naro sandal di pelataran asrama secara sembarangan (biasanya aku naronya di bawah pohon kecil di samping pelataran). Aku tidur siang dan bangunnya pukul enam sore (aku kan staf OSIS, jadi nggak kena sanksi kalau nggak sholat berjama’ah). Pas waktu mo make sandal ambil air wudhu, bah, sandalnya tinggal sebelah.
Aku langsung memicing tajam ke arah got. Pasti masuk ke situ dan dibawa arus hingga ke tempat pembuang akhir yang letaknya di area terbuang di belakang Ponpes. Malas ah nyarinya. Beli lagi. Terus begitu. Hilang mulu.
Hingga akhirnya, untuk ke sekian kalinya aku nelpon ortu minta dibelikan sandal, coz ortuku mo mampir ke pondokanku dekat-dekat ini. Jadilah pada tanggal 12 malam minggu aku dibawakan sandal volcon hitam. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan aku takkan membiarkan sandal ini berakhir tragis seperti pendahulunya. Karena sandal ini hitam maka kuberi nama Aswadi
Tapi bayang-bayang kehilangan terus menghantuiku. Malah sudah merabah ke dalam alam mimpiku. Terakhir, hingga postingan ini di pajang, aku sudah mimpi dua kali. Itu belum termasuk halusinasi yang seolah-olah aku kehilangan si Aswad.
Mimpi pertama: Waktu itu aku baru bangun tidur nguap sana nguap sini. Nggak tau kenapa aku mo keluar asrama. Pas mo keluar AHHHHRRGGGHHHHAAHGRRR…….!!! Si Aswad hilang, tinggal sebelah kirinya saja (kiri ato kanan yau, ah pokoknya hilang sebelah!) saat itu juga aku langsung terbangun dari mimpi burukku (kali ini bangun beneran). Hah…hah… tenyata hanya mimipi, sukur deh.
MImpi kedua: Baru malam tadi.Kali ini masih dalam mimpi (ya iyalah namanya juga mimpi). Saat itu aku lagi di aula. Tiba-tiba terjadi suatu huru-hara karena berebut sandal. Aku pun ambil peran dalam huru-hara itu. Tapi aku nggak nemu sandalku. AAAARRGGHHHG….!!! Aku ribut nyari sandalku sambil nyusup-nyusup di antara kaki-kaki orang. Ternyata aku nggak sendirian, temanku yang namanya Azmie juga kehilangan sandalnya.
Lalu secara ajib aku langsung berada di atas trotoar dari kayu yang bercelah. Di antara celahnya aku melihat si Aswad ada di bawah situ.
“Ah, sandalku,” teriakku. Tapi aku nggak bisa ngambilnya. Tanganku nggak bisa masuk ke celah yang kecil itu. Tanpa disadari Nikita Willy, aku ngebenturin kepalaku yang mahal ini ke trotoar itu. Kali aja kayunya patah. Ternyata nggak tuh. Sampai akhirnya aku terbangun. Aku pastikan sandalku masih ada di tempatnya. Oh, masih ada.
Aku sudah bertekad bakal ngejaga Aswad baik-baik. Bahkan tekadku sudah bulat Aswad ini akan kupertahankan hingga hari wisuda nanti (beberapa bulan lagi ujian, trus wwisuda deh). Aku bakal memproteksinya dari segala kemungkinan hilang. Doakan aja moga-moga hubunganku dengan si Aswad tetep rukun dan dapat berkah. Amien.[]

Ilham
Asrama Zaid, 16 Des. 09
Di siang yang mendung

Thursday,10 Des. 09

Thursday,10 Des. 09
Tanggal 10 Desember 2009 bertepatan hari kamis di penghujung semester ganjil, waktu jam pelajaran kedua, Ustadz Zain absen!
Tidak hadirnya Ust. Zain dalam kelas adalah suatu kelangkaan sekaligus kegirangan tersendiri bagi kami- kami, pecinta jam kosong. Dengan senang hati kami mengisi jam-jam kosong dengan kegiatan yang hebat-hebat.
Kalo lagi ingat kebodohanku selama ini, aku jadi ingin buka-buka kitab yang tulisannya arab gundul (nggak ada barisnya). Lumayan, buat tambah-tambah ilmu. Sayanganya moment seperti ini nggak berlangsung lama, sebab yang jadi pesoalan aku nggak lihai baca kitab macam itu.
Maka demi menuntaskan dahaga yang keterlaluan atas ilmu (yihaa!) aku ke perpus. Tapi yang ada di situ aku malah larut liat-liat gambar di ensiklopedi warna sambil adem-ademan di bawah kipas angin.
Lain lagi ceritanya ketika jam kosong, eh… kebetulan pas bakat lagi mood-moodnya. Di antara sekian banyak bakat yang kudalami adalah bakat ngerumpi. Topiknya beragam . Dari ngomongin orang-orang jawa kayak Suryadi anaknya Pak Bugimin sampai memikirkan buah rambutan Ust. Hamdi*Dengan mata bersinar menatap rambutan yang telah merah*. Yang paling sering sih saling ngeceritain komik: Conan, Naruto dan One Piece, yang sebenarnya sudah sama-sama dibaca.
Dan masih banyak lagi tindakan hebat yang bisa dilakukan saat jam kosong. Satu hal yang rancak banar aku lakuin pada jam kosong, dan ini adalahsebuah tindakan atas keikhlasan dan tingginya rasa keadilan, suatu revolusioner, menentang batas-batas kemapanan wajar: aku tidur di kelas.
Aku termasuk orang yang kompatibel di bidang pose tidur. Makanya itu selain aku tidur di asrama, aku juga tidur di tempat-tempat lainnya. Malah aku menobatkan kelas sebagai kama tidur kedua.
Suatu hariaku ngomong-ngomong sama Suryadi.
Suryadi : Ham, ntar bikin aja buku tentang tidur, kayaknya lo bakat bener.
AKu : He-eh, kapan-kapan aku ngarang buku seni tidur beserta filosofisnya.
PS: Hingga kini belum terlaksana karena beberapa kendala.

Kamis, 03 September 2009

Aya Acara Inti

Asumsi yang secara wajar atau yang sering diucapkan MC, untuk mengartikan makna dari “acara inti” adalah tujuan kenapa diadakannya acara itu. Seperti buka puasa bersama, misalnya.
Namun MC tak bisa memaksakan apa yang dia katakan kepada semua orang, soalnya setiap orang punya otaknya masing-masing. Buat apa punya otak kalau cuma digunakan untuk mikirin bagaimana cara mengangguk yang dramatis, biar orang terharu? Ini adalah demokrasi.
Orang-orang kami (identitas disamarkan) mengartikan makna “acara inti” lebih manusiawi lagi. Apalagi yang paling manusiawi dalam sebuah acara itu melainkan makan? Makan itu manusiawi benget ’kan? Kan ada dalilnya: setiap yang nggak makan bukan manusia dan setiap manusia pasti makan, lebih-lebih kalau manusia itu namanya Aya.
Ada apa dengan Aya? Dialah orang yang paling manusiawi dalam setiap acara yang mengandung “unsur makan”.
Rumus : acara dimulai dia belum datang, Pas bagi konsumsi, dia datang.
Simulasi :Ahad, 29 Oktober 2008. Aula IAIN Antasari Banjarmasin. Dalam sebuah acara seminar jurnalistik yang diadakan LDK Nurul Fata. Setengah jam sebelum acara, kami tiba di gerbang IAIN. Aya tak seperti kami yang memasuki kawasan IAIN, dia malah pulang ke rumahnya. Katanya mau ngambil uang. Seminar mulai, daun telinga Aya belum muncul-muncul juga. Beberapa saat atau lebih lama lagi pastinya, Aya datang dan duduk di sampingku. Anehnya, tak lama setelah itu panitia bagi konsumsi.
Baru-baru ini pun kejadian lagi. Terhitung baru kemarin dari tulisan ini diposting, acaranya buka puasa. Tentulah acara ini mengandung unsur yang paling manusiawi. Awalnya aku ragu ngikutinnya soalnya puntik itu jauh benget dari kutub utara. Kalau dari rumahku paling nggak 20 KM-an aja. Tapi tetap aja malas jika nggak ada barengan.
Kebetulan Aya SMS, ngajakin ke sana. Kuterima aja. Kami sampai sana pukul 03.30WITA. Sedangkanbuka puasa itu pas adzan magrib (kalau Afgan Shubuh itu namanya lafadz niat puasa). Datang seawal itu nggak merusak reputasi Aya sebagai manusia paling manusiaw, karena sekitar pukul limaan dia jalan-jalan. Dan pas dekat bukaan orang sudah rapi duduk mngitari makanan baru dia datang. Benar-benar manusiawi sekali beliau.[]

Pondok Merpati
Jum’at,14 Ramadhan 1430 H.
07.36 WITA.

Porno+Jorok=Pengetahuan

Husy… jangan berpikir negatif dulu. Ini bukan cerita nonton film bokep yang seronok itu, terus kita tahu ilmunya supaya bisa mempraktekan kepada bukan tempatnya (sama kucing, misalnya).
Ilmu bukan hanya didapat dari bangku sekolah. Belajar dari kehidupan pun tak kalah pentingnya. Seperti halnya film bollywood berjudul Slumdog Millionaire yang berkisah tentang seorang milyader yang nggak terpelajarsama sekali. Dia Cuma belajar dari kehidupan. Yah… walaupun cuma film, namun itu ada benarnya juga.
Dan kali ini aku akan berbagi cerita tentang bahwa ilmu bukan hanya bisa diperoleh dari yang bersih, sopan, santun, terhormat, mulia (atau apalah) saja. Namun juga dari dua kata yang dianggap tabu ini: porno+jorok.
Kalau nggak keliru cerita ini waktu aku duduk di kelas dua Mts. Mata pelajarannya fiqih oleh Ustadz A. QUsyasyi. Nggak tau ulah siapa materi saat itu jadi melenceng ke arah seks (biasanya ada yang mancing dengan pertanyaan). Tiba-tiba ada santri yang penasaran dan khawatir sebelum waktunya,”Gimana jadinya, kalau punyaku nggak cocok sama punya istriku nanti?”
To the point saja Al Ustadz menguak cakrawala dari hal yang jarang dipikirkan oleh orang dengan peragaan beliau yang di mataku sungguh menakjubkan. Beliau ngacungin satu jari tangan.
“Ini apa?” tanya beliau.
Sarjana S3 juga tau, yang beliau acungin itu bukan jempol kaki, tapi jari kelingking . Beliau benar-benar menunjukkan jari kelingking itu ke setiap santri, seperti meyakinkan bahwa itu betul-betul jari kelingking dan akan digunakan kepada hal yang sangat luar biasa (kayak kontestan di The Master gitu atau kebalikannya, kontestan The Master kayak beliau. Soalnya lebih dulu beliau yang memperagakan, tapi sayang belum sempat beliau patenkan).
“Lihat jari kelingking ini kalau kita masukkan ke sini.” Kelingking beliau masuk ke lubang hidung. Jorok! (bagi pandangansebagian kalangan, namun aku pribadi tidak. Malah berasa kayak seni gitu, he.. he… becanda)
“Hidung kamu merasakan tidak dimasuki kelingking?” tanya beliau kepada seorang santri yang ikut-ikutan. Santri itu mengangguk cepat.
Beliau ganti jari kelingking menjadi jari manis. Seperti yang telah lewat, beliau masukkan ke lubang yang itu lagi. “Berasa tidak?”
Semuanya mangut-mangut. Ganti jari lagi… sampai seterusnya hingga ibu jari. Dari jari yang paling kecil hingga yang paling gede, lubang hidung dapatmenyesuaikan daya apitnya.
Beliau mengakhiri cakrawala ini dengan, “Nah, sekarang apa yang kalian khawatirkan lagi. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar, semuanya pas!”
Begitulah sobat pembaca di mana pun berada, dari hal yang porno dan diperagakan secara jorok (sekali lagi anggapan sebagian orang) pun dapat diperoleh pengetahuan.
Setelah kita mendapat pengetahuan ini, diharapkan nggak ada lagi yang berhubungan intim pra nikah (apa lagi pra sejarah) dengan dalih apakah klop atau nggak dengan punya pacar. Bersabarlah sedikit, sobat, semuanya ada proses dan saat itu akan tiba. Jadi tenang saja, aku jamin pasti compatible kok.

Pondok Merpati
08.33WITA.
Selasa, 11 Ramadhan 1430 H.

Hipnotis Audiens


Belakangan ini banyak bermunculan ahli hipnotis, setelah Tommy R. Selain tampil di layar kaca, mereka gencar-gencarnya mengarang buku hipnotis. Sebelum memasuki dunia perhipnotisan biasanya pengarang lebih dahulu meyakinkan atau tepatnya menghipnotis pembaca bahwa ilmu hipnotis itu tidak ada sangkut pautya dengan dunia pergaiban .
Ngomong-nomong soal hipnotis, aku punya satu kisah di bulan ramadhan kali ini (sebenarnya nggak bulan kali ini aja sih, setiap tahun malah).
Aku adalah seorang anak manusia yang dipercaya sebagai salah satu pembaca shalawat tawarih di mushalla dekat tempat tinggalku. Kalau kerjaan macam ini’kan membutuhkan suara yang lantang dan napas panjang. Sayangnya napasku pendek. Kendati demikian nggak terlalu menyulitkanku, kecuali pada shalawat bagian akhir yang lumayan nggak pendek atau seperti kata kebanyakan orang disebut panjang. Berikut kutipannya:
اللهم صل على رسولك سيد نا ونبينا وحبيبنا وشفيعنا و ذخزنا و مولانا
.محمد
Makanya itu pas membaca shalawat yang ini aku agak cepat. Namun tetap saja sampai kalimat و ذخزنا leherku sudah kayak tercekik. Bantuan tak diharapkan pun datang. Bukannya mempermudah malah menjadi tambah sulit.
Aku ini orang yang sering terbawa (terhipnotis) audiens. Jadi walupun aku yang megang kendali (mic-nya,Bo) bacaanku tetap ngikutin jamaah yang lainnya. Kalau jamaahnya cepat, aku sih sip-sip aja, tapi kalau jamaahnya kakek-kakek yang ngomngnya udah udzur, bah bakal sumbang sama bacaanku yang cepat.
Nah, dalam kasus shalawat ini audiensnya (lebih tepatnya orang di sampingku) bukan seorang kakek-kakek macam di atas. Bahkan lebih parah (bagiku). Napas orang ini panjaaaaaaaaaaaaaaaaang da..n hhh… lantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!
Simulasinya gini, pas aku sampai pada kalimat و ذخزنا orang di sebelahku ini kasihan dan bantuin nyambung ومولانا محمد, tapi نا-nya panjaaaaaaaaaaaaang banget. Aku ya juga ikut terseret kedalamnya panjangnya. Mataku terbelalak, urat leher ngambang ke permukaan kulit, suara kayak kambing. Habis pulang terawaih aku langsung cukuran jenggot (yang mengundang kontroversi sohib-sohibku). Yah… setidaknya ini sebagai tindakan mengurangi karater kambing setelah kejadian kehabisan napas tadi.[]

Pondok Merpati
06.57 WITA.
Selasa, 11 Ramadhan 1430H.

Benar-benar ujian

Ini sudah hari ulangan/ujian ke-8. Soalnya, huwaaa….. syusye minta ampun. Di kala itulah sederetan petaka menghampiri hidupku yang hampa.
Berawal dari malam ulangan ke-8. Yang diujikan adalah mata pelajaran Nahwu dan Lughatul Arabiyyah. Lughat, ah… nggak terlalu nyita pikiran tuh (Ustadz…… masam muhanya, sidin gurunya pang). Bukannya maksud merendahkan, pertanyaannya emang nggak sulit-sulit amat. Nah, yang jadi masalah itu Nahwu, pertanyaannya aja bikin ngungbi, apalagi jawabannya. Lebih-lebih ini…. Ini…. matapelajaran pokok! Nilai di bawah 6, siap-siap saja disayang walikelas (tinggal di kelas… tinggal di kelas… ye….)
Seperti yang sudah aku bilang, petaka ini berawal dari malam ulangan ke-8. Biar mudahnya, mari kita flashback dulu ke waktu siang. Siang itu sangat membakar. Aku paling nggak tahan kalau kepanasan. Mana hari panas, pakai acara mati listrik pula. Kipas jadi nggak berfungsi. Aku mandi keringat. Bajuku sudah jadi kayak jemuran kehujanan. Kulit lengkat lagi. Ciaaaaatt….. aku sudah benar-benar amat sangat nggak tahan sekali.
Aku menyelamatkan diri ke kelas. Saat panas begini bagiku ada dua tempat yang sangat pas untuk dikunjungi, yaitu kutub utara dan selatan. Namun berhubung tempat itu sangat jauh dari sekolahku, yah… di kelas pun jadi (sebenarnya di mushalla juga nggak kalah enaknya, tapi lagi malas aja).
Di kelas aku mondar-mandir nggak keruan. Padahal besok ulangan penting. Tapi aku tidak bisa kosen di kala panas begini! Dalam pikirku, ah nanti saja belajarnya, malam juga bisa. Singkat waktu (ini dia kelebihan menulis, sebentar-sebentar nyingkat waktu) aku telah sampai di malam hari. Waktu itu antara maghrib-i’sya, bukannya belajar, aku malah KKN (kunyuk-kunyuk narai). Habis isya aku kebanyakan makan, jadi malas belajar. Ngantuk.
Namun biar bagaimana pun, aku musti belajar, besok matapelajaran pokok. Aku belajar, sambil rebahan. Tahu kenapa akibatnya. Aku ketiduran. Sukur (sukur dalam artian “untung”, bukan si Sukur ketua ibadah itu) aku terbangun setengah empat pagi Aku gemetaran belum belaja apa-apa. Aku sibuk mencari-cari kitabku. Alamak tertindih ternyata, jadi penyok deh.
Saking stresnya, kumakan kitabku (seandainya ada yang bilang makan kitab itu enak, untungnya nggak ada yang bilang kayak itu). Aku hidup-hidupan (kalau mati-matian, mana bisa aku ikut ulangan) belajar. Nahwu itu, jika ditimbang-timbang, kayak fisika, otak terbanting-banting mikirnya. Akibatna aku nggak sarapan pagi itu. Padahal kalau lapar, aku agak sedikit nggak pintar (kalau kenyang tapintar saikit).
Hitungan menit saja bel masuk bunyi. Aku optimis bakal dapat menjawab semuanya. Soalnya aku sudah mengahapal rumus-rumusnya. Aku bilang pada temanku yang kursinya dekat denganku,
“Zan, mun handak meneron, lajui ja, hari ini aku handak lakas keluar. Parut padih nah. Balum makan.” (beeeh.. keren banget ngomongku waktu itu, sambil nepuk-nepuk perut lagi)

Di kelas…
Lembar soal dibagi.
"إنَالله وإنَاإليه رجڠون" Ucapku.
Aku memang hapal ruumusnya. Tapi kalau pertanyaanya:
"لبناءالأجوف ڽلا ڽة أوجه حركة، بينها"
Jawabanya yang mana? Aku hapal, tapi nggak paham. Ah…. Sia-sia! Biar hapal, tapi soalnya nggak paham, itu berarti sama saja dengan pribahasa “pagar makan tanaman” (silakan temukan benang merahnya antara permasalahanku dengan pribahasa ini, pengomen pertama mendapatkan satu set mug cantik).
Singkat cerita (lagi!) satu demi satu teman-teman yang lainnya keluar. Sampai tinggal beberapa orang, dan aku termasuk dari orang-orang itu. “Aku” yang mana? Itu, “aku” yang tadi ngomongya pengen cepet keluar sambil nepuk-nepuk perut. Dan detik itu pula teman yang kusuruh kalo mau, nyontek buruan aja, berpaling ke mejaku.
“Ham, badahulu lah…”
Semuanya ludes, kecuali tinggal tiga orang yang bertahan masih di dalam lokal, dan aku salah satunya!
Aku masih bingung, dan lonceng tetap berdentang. Kutatap lembar jawabanku. Penuh. Padat. Berjejal dengan coretan artistik, kayak efek asap hitam bom. Ah, nggak pa-pa. Setidaknya antarmuka kertasnya penuh, walaupun salah. Kali aja pengoreksinya ngira begini: Oh, kepenuhan ya. Mungkin padahal dia ingin nulis jawaban yang benarnya tapi nggak muat lagi. Saya kasih 9 saja, sebagai upah nulis.
Aku bergegas keluar lokal, coz perut keroncongan. Beberapa menit kemudian aku masih mondar-mandir di muka di sepanjang lokal. Bukannya mau gaya-gaya sih atau sok gimana gitu, tapi suer sandalku banyak fansnya. Terpaksa aku pulang bersama sandal gabin hitam yang mengharukan, sampai-sampai pemiliknya aja teralu malu melihatnya.
Di kantin…….
Aku berduka….. karena lontong habis. Sebenarya di kelas aku nggak hanya mikirin نائب الفاعل, namun lontong juga. Lagi-lagi terpaksa makan wadai yang….. Mau gimana lagi, keduluan orang.

Ulangan jam kedua. Di lokal……..
Lughatul Arabiyyah. Seperti yang sudah kukatakan nggak terlalu sulit. Tapi ada gangguan datang dari orang sebelah. Ini benar-benar orang sebelah lho. Yang duduk di sebelahku, di seberang jalan itu. Dia tuh nyontek agresif luar biasa. Patut diancungi jempol. Tapi tetap aja ketahuan pengawasnya. Biasanya kalau pengawas yang satu ini nemuin ada yang nyontek, nggak langsung beliau keluarkan, tapi tempat duduk pelakunya saja yang dipindah ke tempat duduk pengawas. Benar-benar hal yang memalukan. Apalagi pas ada ustadz-ustadz yang keliling lokal, bah… bakal jadi tontonan dah. Dan sialnya lagi misalnya kebetulan satu di antara ustadz yang keliling itu adalah wali kelas sendiri.
Nah yang jadi pertanyaan di sini, apakah orang sebelah ini juga akan mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya? Ternyata tidak, dia dibiarkan duduk manis di alamnya. Malah pengawas yang mulia ini mempersilahkan aku yang duduk di kursi pengawas!
“Biar aman,” dalih beliau.
Aman-aman tapi malu, pikirku.
Lagi-lagi terpaksa (kenapa pemeran utama mulu yang terpaksa, kayak di sinetron?) aku duduk di kursi pengawas. Malu? Pastinya, iya. Apalagi ustadz pemegang Lughatul Arabiyyah datang.
“Di sini kurang kursinya kah?” tanya beliau kada tahu-tahu muha. Kubalas aja, aku juga kada tahu-tahu muha.
Inilah ulangan yang benar-benar ujian.[]

Ulangan Terlaknat

Pyuuuu…..h…. Sembilan hari yang melelahkan usai juga, ulangan akhir semester.

Aku rasa ulangan kali ini adalah ulanganku yang paling laknat selama ini! Nggak, aku nggak bunuh teman karena nggak dikasih contekan, kok. Hanya saja ulangan kali ini aku suka nanya petunjuk (iya…iya… maksudku nyontek).

Jauh-jauh hari aku ini punya pantangan nyontek, kecuali pas terdesak (sama ae lah…). Aku ini anak pondokan klasik-moderen, jadi sekolah dibagi dua, pagi agama, sedangakan siang untuk umum. Nah yang menjadi benang merah di sini adalah kalo agama aku cukup jago, kalo umum lumayan bego. Dengan kata lain pas ulangan pondok, aku nggak bakalan jadi jerapah. Tapi jika pas ulangan umum, bah kemampuanku melebihi intelijen! (Ngorek informasinya)

Aku jadi teringat ulangan tempo doeloe (duh… sok kakek-kakek), aku benar-benar coo l (ini dalam kasus ulangan agama), soalnya aku benar-benar jenius. Tapi pas ada yang nanya jawaban, aku beri. Minta contekan nggak, ngasih iya. Namun seiring berlalunya zaman, semuanya tinggal kenangan.

Aku masih ingat benar, ulangan semester ganjil lalu aku berusaha mati-matian mempertahankan keperawanan nilaiku. Benar, aku nggak nyontek satu kali pun. Saking sok sucinya, aku merasa sangat hina dikala bingung akan suatu pertanyaan, eh… tau-tau (siapa ya? Aku lupa) dibelakang bisik-bisik (aku dengar) sama teman seberangnya:………………………:ان النبي صلي الله ڠليهم وسلم قال Itu dia jawabannya. Aku jadi bingung musti senang atau sedih? Tapi intinya waktu itu jawabannya langsung kutulis, soalnya mubazir kalau terbuang sia-sia (maksa banget!)

Sekarang? Hah……. Entah berapa jumlah jawaban ilegal yang nangkring di lembar jawabanku. Meskipun aku rangking satu, itu takkan membuatku bangga sepenuhnya (terlebih si Rainbow minta ditraktir ke warnet jika aku rangking wahid, hu… hu…64237097 kali).

Akhirul kalam, semoga aku diampuni-Nya. Dan juga si Rainbow, nanti ke warnet jangan lama-lama (kayak optimis rangking satu aja) dan kudo’akan semoga kau lupa dengan nadzar ini.

Minggu, 31 Mei 2009

Seminar FLP

Ahad, 31-05-09
Bah, hari ini gue senang nggak ketulungan. Ngehadirin acara seminar di Smasa, yang di adakan FLP. Selain dapat ilmu dapat doorprize pula. Dan pada hari itu, detik itu juga, pertama kalinya domain blog gue ada yang muji (biasanya dibilang aneh). Dari penulis beken lagi, Imatuzahra, yang penulis "Long Distance of Love" itu. Kata Beliau, namanya unik dan lucu. Jadi kepikiran pengen kelelepon juga. Syukran katsir-katsir ya, Mbak atau Ibu.
Sekaligus usai acara, FLP nerima anggota baru. Gue buru-buru nyambar formulirnya. Moga-moga bisa eksis. Amiiiii......!

Ini cuman sekadar ilustrasi doang.

Jumat, 03 April 2009

Persiapan Aruh Blogger

Gila! Gue seneng banget bisa kedaftar di gathering Aruh Blogger (AB). Baru kedafta aja udah seneng nggak maen-maen, apa lagi pas ikutannya. Padahal gue blogger dadakan. Pas ada di AB aja gue ada dikit tampang blogger (Emang tampang blogger itu kayak apa?)

Sebenarnya udah lama gue punya blog, tapi gue telantarin. Malas, ah. Coz, di Al Falah OL syusye. Pas dapat kabar ada AB dari Zian.tk (taman kanak-kanak hu..hu...) gue jadi kepingin ikutan.

Waktu libur bulanan yang cuman satu hari doang, gue langsung lari ke Kyagi. Yah, gue nengok blog gue, apa masih idup ato udah jadi blog terjelek segalaksi Bima sakti dan sekitarnya? Rupanya masih bernyawa!

Blog gue ada tiga. Gue hapus dua. Jadi sisa satu (ya iyalah anak kecil juga tauk). Nah, yang satu-satunya itu yang akan gue permak. Gue pasang salju kursor. Terus gue googling, nyari tempalte yang oke. Dapat! Dari allblogtools. Tapi gue nggak bisa make templatenya. Kenapa? Karena gue bukan blog. Serius, beneran lho semua template yang pengen gue pasang ditolak mentah-mentah oleh blogspot. Katanya, template error.

Untung ada si tk. Dia ngeloyor masuk ke box gue.

“Kenapa?”

Templatenya error mulu.”

Tanpa kata, dia merampas mouse dari tangan gue (sukur nggak gue teriakin, maliiiii.....nggg!!!). Klik sana, klik sini.

“Gimana kalo pake template yang ini?”

Gue pura-pura mikir,”Oke juga.”

Dia ajarin gue tata krama make template dari allblogtools (Emang bagus-bagus tapi sering ditolak blogspot) biar blogspot nerima dengan suka cita. Uereka! Sukses! Template yang asalnya error, jadi bisa dipake. Ujar si tk, “Teknik ini nggak ada di buku blog mana pun.” Gue nggak tau si tk dapat dari mana tuh teknik. Bahkan gue punya temen yang blogmania, dia nggak tau teknik ini. Pas temen gue itu mo masangin template dari allblogtools di blog temannya, gagal, karena nggka nerapin tekinik seperti si tk. Yang berubah cuman headernya doang.

Mo tau tekniknya apa?

Menjelang Aruh Blogger

Gila! Gue seneng banget bisa kedaftar di gathering Aruh Blogger (AB). Baru kedafta aja udah seneng nggak maen-maen, apa lagi pas ikutannya. Padahal gue blogger dadakan. Pas ada di AB aja gue ada dikit tampang blogger (Emang tampang blogger itu kayak apa?)

Sebenarnya udah lama gue punya blog, tapi gue telantarin. Malas, ah. Coz, di Al Falah OL syusye. Pas dapat kabar ada AB dari Zian.tk (taman kanak-kanak hu..hu...) gue jadi kepingin ikutan.

Waktu libur bulanan yang cuman satu hari doang, gue langsung lari ke Kyagi. Yah, gue nengok blog gue, apa masih idup ato udah jadi blog terjelek segalaksi Bima sakti dan sekitarnya? Rupanya masih bernyawa!

Blog gue ada tiga. Gue hapus dua. Jadi sisa satu (ya iyalah anak kecil juga tauk). Nah, yang satu-satunya itu yang akan gue permak. Gue pasang salju kursor. Terus gue googling, nyari tempalte yang oke. Dapat! Dari allblogtools. Tapi gue nggak bisa make templatenya. Kenapa? Karena gue bukan blog. Serius, beneran lho semua template yang pengen gue pasang ditolak mentah-mentah oleh blogspot. Katanya, template error.

Untung ada si tk. Dia ngeloyor masuk ke box gue.

“Kenapa?”

Templatenya error mulu.”

Tanpa kata, dia merampas mouse dari tangan gue (sukur nggak gue teriakin, maliiiii.....nggg!!!). Klik sana, klik sini.

“Gimana kalo pake template yang ini?”

Gue pura-pura mikir,”Oke juga.”

Dia ajarin gue tata krama make template dari allblogtools (Emang bagus-bagus tapi sering ditolak blogspot) biar blogspot nerima dengan suka cita. Uereka! Sukses! Template yang asalnya error, jadi bisa dipake. Ujar si tk, “Teknik ini nggak ada di buku blog mana pun.” Gue nggak tau si tk dapat dari mana tuh teknik. Bahkan gue punya temen yang blogmania, dia nggak tau teknik ini. Pas temen gue itu mo masangin template dari allblogtools di blog temannya, gagal, karena nggka nerapin tekinik seperti si tk. Yang berubah cuman headernya doang.

Mo tau tekniknya apa?