Dibuka dari malam 1 Ramadhan hingga satu bulan ke depan, umat islam bersuka cita. Banyak hal yang menyenangkan di bulan ini. Baik itu positif, maupun negatif, bahkan kombinasi positif-negatif.
Yang haus pengetahuan agama tentu bakal traveling ke masjid-masjid yang mengadakan ceramah shubuh. Pasangan kekasih yang kebetulan orang tuanya super protektif jadi punya alasan buka bareng teman di luar berkedok kencan yang indah. Sementara itu para ABG beramai-ramai ke masjid atau lebih tepatnya ke taman masjid. Bukan untuk shalat tarawih, justru ngobrol-ngobrol tidak ada juntrungannya, bahkan sampai pacaran. Naudzubillh.. Dua bagian akhir ini, bukan dimaksudkan pandangan sinis pada generasi-generasi muda kita, namun ini menyangkut fakta lapangan, kendati tidak mutlak.
Hari pertama dan hari terakhir, itulah dua hari pusaka. Jama’ah shalat tarawih memenuhi masjid pada dua hari itu. Spirit hari pertama karena tarawih perdana tahun ini. Sedangkan spirit hari terakhir karena sebagai penutup atau kenangan. Lantas, mana spirit hari-hari di antara keduanya?
Pada bulan Ramadhan, alih-alih memperbanyak ibadah, malah ritinitas harian yang biasanya dikerjakan jadi bolong-bolong. Bulan ini dijadikan timing untuk bermalasan. Lemas karena puasa biasanya dijadikan sebagai alasan. Agaknya alasan macam ini mengkambinghitamkan puasa. Seolah-olah puasa itu sebagai beban.
Seorang pakar yang mendalami organ pencernaan, dalam bahasa sederhana beliau memaparkan tentang pola makan yang sehat.
“Pola makan yang ideal itu makan 3 kali tiap harinya. Namun ada kalanya kita perlu mengistirahatkan organ pencernaan kita secara berkala tiap bulan atau tahun, dengan puasa misalnya,” jelas beliau.
Jika memandang dari sudut uraian tersebut di atas, sepertinya puasa tidak bisa diartikan sebagai beban , atau cuma sebatas kewajiban umat islam, namun lebih. Yakni “kebutuhan” seluruh manusia.
Selagi itu, di lain bilik ada pula yang kerjaannya tidur terus-terusan dengan dalih tidurnya orang puasa adalah ibadah. Dari pada terjaga dan melihat yang haram.
Sebenarnya orang-orang yang otaknya terjerat oleh asumsi sumbang dan termakan mentah-mentah akan omongan yang dasarnya samar semacam di atas, tidak akan melakukan hal demikian, seandainya mereka mengetahui esensi dari bulan yang penuh berkah ini. Salah satunya adalah sebagai deskripsi bagaimana kondisi perut orang miskin. Apa itu akan dapat dirasakan seseorang yang berpuasa sementara dia sendiri tidur sepanjang hari dan terbangun saat bedug dan makanan telah tersaji. Sambil berbuka puasa dia berucap,”Huuh…puasa hari ini penuh perjuangan.”
Harusnya orang-orang seperti ini perlu disadarkan dari kekurangtepatan tindakannya, bahwa bulan Ramadhan belum sempurna jika hanya diisi ibadah berupa tidur (ibadah pasif/antisipasi dari dosa) saja, akan tetapi disertai ibadah aktif. Tarawih, tadarus Al Qur’an, shalat malam, lebih-lebih pada malam ganjil 10 akhir Ramadhan. Itu pun belum termasuk ibadah wajib.
Namun jangan salah, selain ibadah hablumminallah (yang berhubungan dengan Allah), ada lagi ibadah hablumminannas (yang berhubungan dengan makhluk). Salah satunya mempererat tali silaturrahim yang mungkin sudah agak melorot.
Seperti halnya layanan domain dijaminmurah.com, mengadakan lomba menulis artikel di blog dengan harapan agar lebih akrab dengan kustomer. Ini adalah sebuah upaya yang bernuansa lebih cerah ketimbang tidur melulu di bulan yang suci ini.
Sekejap kucuri waktu. Memungut potongan-potangan mozaik masa lalu yang berserakan di sekujur raga. Apa yang dihasilkan tangan ini kemarin, detik ini, besok? Dan apakah mata ini besok masih dapat melihat tangan yang berlumur itu? Lalu kapan lagi kening ini sejajar dengan kaki, yang entah ke mana saja dia menggiringku. Kalau boleh bertanya, siapa yang bisa memastikan aku masih berkesempatan mencuri waktu di bulan suci selanjutnya?[]
Asumsi yang secara wajar atau yang sering diucapkan MC, untuk mengartikan makna dari “acara inti” adalah tujuan kenapa diadakannya acara itu. Seperti buka puasa bersama, misalnya. Namun MC tak bisa memaksakan apa yang dia katakan kepada semua orang, soalnya setiap orang punya otaknya masing-masing. Buat apa punya otak kalau cuma digunakan untuk mikirin bagaimana cara mengangguk yang dramatis, biar orang terharu? Ini adalah demokrasi. Orang-orang kami (identitas disamarkan) mengartikan makna “acara inti” lebih manusiawi lagi. Apalagi yang paling manusiawi dalam sebuah acara itu melainkan makan? Makan itu manusiawi benget ’kan? Kan ada dalilnya: setiap yang nggak makan bukan manusia dan setiap manusia pasti makan, lebih-lebih kalau manusia itu namanya Aya. Ada apa dengan Aya? Dialah orang yang paling manusiawi dalam setiap acara yang mengandung “unsur makan”. Rumus : acara dimulai dia belum datang, Pas bagi konsumsi, dia datang. Simulasi :Ahad, 29 Oktober 2008. Aula IAIN Antasari Banjarmasin. Dalam sebuah acara seminar jurnalistik yang diadakan LDK Nurul Fata. Setengah jam sebelum acara, kami tiba di gerbang IAIN. Aya tak seperti kami yang memasuki kawasan IAIN, dia malah pulang ke rumahnya. Katanya mau ngambil uang. Seminar mulai, daun telinga Aya belum muncul-muncul juga. Beberapa saat atau lebih lama lagi pastinya, Aya datang dan duduk di sampingku. Anehnya, tak lama setelah itu panitia bagi konsumsi. Baru-baru ini pun kejadian lagi. Terhitung baru kemarin dari tulisan ini diposting, acaranya buka puasa. Tentulah acara ini mengandung unsur yang paling manusiawi. Awalnya aku ragu ngikutinnya soalnya puntik itu jauh benget dari kutub utara. Kalau dari rumahku paling nggak 20 KM-an aja. Tapi tetap aja malas jika nggak ada barengan. Kebetulan Aya SMS, ngajakin ke sana. Kuterima aja. Kami sampai sana pukul 03.30WITA. Sedangkanbuka puasa itu pas adzan magrib (kalau Afgan Shubuh itu namanya lafadz niat puasa). Datang seawal itu nggak merusak reputasi Aya sebagai manusia paling manusiaw, karena sekitar pukul limaan dia jalan-jalan. Dan pas dekat bukaan orang sudah rapi duduk mngitari makanan baru dia datang. Benar-benar manusiawi sekali beliau.[]
Pondok Merpati Jum’at,14 Ramadhan 1430 H. 07.36 WITA.
Husy… jangan berpikir negatif dulu. Ini bukan cerita nonton film bokep yang seronok itu, terus kita tahu ilmunya supaya bisa mempraktekan kepada bukan tempatnya (sama kucing, misalnya). Ilmu bukan hanya didapat dari bangku sekolah. Belajar dari kehidupan pun tak kalah pentingnya. Seperti halnya film bollywood berjudul Slumdog Millionaire yang berkisah tentang seorang milyader yang nggak terpelajarsama sekali. Dia Cuma belajar dari kehidupan. Yah… walaupun cuma film, namun itu ada benarnya juga. Dan kali ini aku akan berbagi cerita tentang bahwa ilmu bukan hanya bisa diperoleh dari yang bersih, sopan, santun, terhormat, mulia (atau apalah) saja. Namun juga dari dua kata yang dianggap tabu ini: porno+jorok. Kalau nggak keliru cerita ini waktu aku duduk di kelas dua Mts. Mata pelajarannya fiqih oleh Ustadz A. QUsyasyi. Nggak tau ulah siapa materi saat itu jadi melenceng ke arah seks (biasanya ada yang mancing dengan pertanyaan). Tiba-tiba ada santri yang penasaran dan khawatir sebelum waktunya,”Gimana jadinya, kalau punyaku nggak cocok sama punya istriku nanti?” To the point saja Al Ustadz menguak cakrawala dari hal yang jarang dipikirkan oleh orang dengan peragaan beliau yang di mataku sungguh menakjubkan. Beliau ngacungin satu jari tangan. “Ini apa?” tanya beliau. Sarjana S3 juga tau, yang beliau acungin itu bukan jempol kaki, tapi jari kelingking . Beliau benar-benar menunjukkan jari kelingking itu ke setiap santri, seperti meyakinkan bahwa itu betul-betul jari kelingking dan akan digunakan kepada hal yang sangat luar biasa (kayak kontestan di The Master gitu atau kebalikannya, kontestan The Master kayak beliau. Soalnya lebih dulu beliau yang memperagakan, tapi sayang belum sempat beliau patenkan). “Lihat jari kelingking ini kalau kita masukkan ke sini.” Kelingking beliau masuk ke lubang hidung. Jorok! (bagi pandangansebagian kalangan, namun aku pribadi tidak. Malah berasa kayak seni gitu, he.. he… becanda) “Hidung kamu merasakan tidak dimasuki kelingking?” tanya beliau kepada seorang santri yang ikut-ikutan. Santri itu mengangguk cepat. Beliau ganti jari kelingking menjadi jari manis. Seperti yang telah lewat, beliau masukkan ke lubang yang itu lagi. “Berasa tidak?” Semuanya mangut-mangut. Ganti jari lagi… sampai seterusnya hingga ibu jari. Dari jari yang paling kecil hingga yang paling gede, lubang hidung dapatmenyesuaikan daya apitnya. Beliau mengakhiri cakrawala ini dengan, “Nah, sekarang apa yang kalian khawatirkan lagi. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar, semuanya pas!” Begitulah sobat pembaca di mana pun berada, dari hal yang porno dan diperagakan secara jorok (sekali lagi anggapan sebagian orang) pun dapat diperoleh pengetahuan. Setelah kita mendapat pengetahuan ini, diharapkan nggak ada lagi yang berhubungan intim pra nikah (apa lagi pra sejarah) dengan dalih apakah klop atau nggak dengan punya pacar. Bersabarlah sedikit, sobat, semuanya ada proses dan saat itu akan tiba. Jadi tenang saja, aku jamin pasti compatible kok.
Pondok Merpati 08.33WITA. Selasa, 11 Ramadhan 1430 H.
Belakangan ini banyak bermunculan ahli hipnotis, setelah Tommy R. Selain tampil di layar kaca, mereka gencar-gencarnya mengarang buku hipnotis. Sebelum memasuki dunia perhipnotisan biasanya pengarang lebih dahulu meyakinkan atau tepatnya menghipnotis pembaca bahwa ilmu hipnotis itu tidak ada sangkut pautya dengan dunia pergaiban . Ngomong-nomong soal hipnotis, aku punya satu kisah di bulan ramadhan kali ini (sebenarnya nggak bulan kali ini aja sih, setiap tahun malah). Aku adalah seorang anak manusia yang dipercaya sebagai salah satu pembaca shalawat tawarih di mushalla dekat tempat tinggalku. Kalau kerjaan macam ini’kan membutuhkan suara yang lantang dan napas panjang. Sayangnya napasku pendek. Kendati demikian nggak terlalu menyulitkanku, kecuali pada shalawat bagian akhir yang lumayan nggak pendek atau seperti kata kebanyakan orang disebut panjang. Berikut kutipannya: اللهم صل على رسولك سيد نا ونبينا وحبيبنا وشفيعنا و ذخزنا و مولانا .محمد Makanya itu pas membaca shalawat yang ini aku agak cepat. Namun tetap saja sampai kalimat و ذخزنا leherku sudah kayak tercekik. Bantuan tak diharapkan pun datang. Bukannya mempermudah malah menjadi tambah sulit. Aku ini orang yang sering terbawa (terhipnotis) audiens. Jadi walupun aku yang megang kendali (mic-nya,Bo) bacaanku tetap ngikutin jamaah yang lainnya. Kalau jamaahnya cepat, aku sih sip-sip aja, tapi kalau jamaahnya kakek-kakek yang ngomngnya udah udzur, bah bakal sumbang sama bacaanku yang cepat. Nah, dalam kasus shalawat ini audiensnya (lebih tepatnya orang di sampingku) bukan seorang kakek-kakek macam di atas. Bahkan lebih parah (bagiku). Napas orang ini panjaaaaaaaaaaaaaaaaang da..n hhh… lantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang! Simulasinya gini, pas aku sampai pada kalimat و ذخزنا orang di sebelahku ini kasihan dan bantuin nyambung ومولانا محمد, tapi نا-nya panjaaaaaaaaaaaaang banget. Aku ya juga ikut terseret kedalamnya panjangnya. Mataku terbelalak, urat leher ngambang ke permukaan kulit, suara kayak kambing. Habis pulang terawaih aku langsung cukuran jenggot (yang mengundang kontroversi sohib-sohibku). Yah… setidaknya ini sebagai tindakan mengurangi karater kambing setelah kejadian kehabisan napas tadi.[]
Pondok Merpati 06.57 WITA. Selasa, 11 Ramadhan 1430H.
Ini sudah hari ulangan/ujian ke-8. Soalnya, huwaaa….. syusye minta ampun. Di kala itulah sederetan petaka menghampiri hidupku yang hampa. Berawal dari malam ulangan ke-8. Yang diujikan adalah mata pelajaran Nahwu dan Lughatul Arabiyyah. Lughat, ah… nggak terlalu nyita pikiran tuh (Ustadz…… masam muhanya, sidin gurunya pang). Bukannya maksud merendahkan, pertanyaannya emang nggak sulit-sulit amat. Nah, yang jadi masalah itu Nahwu, pertanyaannya aja bikin ngungbi, apalagi jawabannya. Lebih-lebih ini…. Ini…. matapelajaran pokok! Nilai di bawah 6, siap-siap saja disayang walikelas (tinggal di kelas… tinggal di kelas… ye….) Seperti yang sudah aku bilang, petaka ini berawal dari malam ulangan ke-8. Biar mudahnya, mari kita flashback dulu ke waktu siang. Siang itu sangat membakar. Aku paling nggak tahan kalau kepanasan. Mana hari panas, pakai acara mati listrik pula. Kipas jadi nggak berfungsi. Aku mandi keringat. Bajuku sudah jadi kayak jemuran kehujanan. Kulit lengkat lagi. Ciaaaaatt….. aku sudah benar-benar amat sangat nggak tahan sekali. Aku menyelamatkan diri ke kelas. Saat panas begini bagiku ada dua tempat yang sangat pas untuk dikunjungi, yaitu kutub utara dan selatan. Namun berhubung tempat itu sangat jauh dari sekolahku, yah… di kelas pun jadi (sebenarnya di mushalla juga nggak kalah enaknya, tapi lagi malas aja). Di kelas aku mondar-mandir nggak keruan. Padahal besok ulangan penting. Tapi aku tidak bisa kosen di kala panas begini! Dalam pikirku, ah nanti saja belajarnya, malam juga bisa. Singkat waktu (ini dia kelebihan menulis, sebentar-sebentar nyingkat waktu) aku telah sampai di malam hari. Waktu itu antara maghrib-i’sya, bukannya belajar, aku malah KKN (kunyuk-kunyuk narai). Habis isya aku kebanyakan makan, jadi malas belajar. Ngantuk. Namun biar bagaimana pun, aku musti belajar, besok matapelajaran pokok. Aku belajar, sambil rebahan. Tahu kenapa akibatnya. Aku ketiduran. Sukur (sukur dalam artian “untung”, bukan si Sukur ketua ibadah itu) aku terbangun setengah empat pagi Aku gemetaran belum belaja apa-apa. Aku sibuk mencari-cari kitabku. Alamak tertindih ternyata, jadi penyok deh. Saking stresnya, kumakan kitabku (seandainya ada yang bilang makan kitab itu enak, untungnya nggak ada yang bilang kayak itu). Aku hidup-hidupan (kalau mati-matian, mana bisa aku ikut ulangan) belajar. Nahwu itu, jika ditimbang-timbang, kayak fisika, otak terbanting-banting mikirnya. Akibatna aku nggak sarapan pagi itu. Padahal kalau lapar, aku agak sedikit nggak pintar (kalau kenyang tapintar saikit). Hitungan menit saja bel masuk bunyi. Aku optimis bakal dapat menjawab semuanya. Soalnya aku sudah mengahapal rumus-rumusnya. Aku bilang pada temanku yang kursinya dekat denganku, “Zan, mun handak meneron, lajui ja, hari ini aku handak lakas keluar. Parut padih nah. Balum makan.” (beeeh.. keren banget ngomongku waktu itu, sambil nepuk-nepuk perut lagi)
Di kelas… Lembar soal dibagi. "إنَالله وإنَاإليه رجڠون" Ucapku. Aku memang hapal ruumusnya. Tapi kalau pertanyaanya: "لبناءالأجوف ڽلا ڽة أوجه حركة، بينها" Jawabanya yang mana? Aku hapal, tapi nggak paham. Ah…. Sia-sia! Biar hapal, tapi soalnya nggak paham, itu berarti sama saja dengan pribahasa “pagar makan tanaman” (silakan temukan benang merahnya antara permasalahanku dengan pribahasa ini, pengomen pertama mendapatkan satu set mug cantik). Singkat cerita (lagi!) satu demi satu teman-teman yang lainnya keluar. Sampai tinggal beberapa orang, dan aku termasuk dari orang-orang itu. “Aku” yang mana? Itu, “aku” yang tadi ngomongya pengen cepet keluar sambil nepuk-nepuk perut. Dan detik itu pula teman yang kusuruh kalo mau, nyontek buruan aja, berpaling ke mejaku. “Ham, badahulu lah…” Semuanya ludes, kecuali tinggal tiga orang yang bertahan masih di dalam lokal, dan aku salah satunya! Aku masih bingung, dan lonceng tetap berdentang. Kutatap lembar jawabanku. Penuh. Padat. Berjejal dengan coretan artistik, kayak efek asap hitam bom. Ah, nggak pa-pa. Setidaknya antarmuka kertasnya penuh, walaupun salah. Kali aja pengoreksinya ngira begini: Oh, kepenuhan ya. Mungkin padahal dia ingin nulis jawaban yang benarnya tapi nggak muat lagi. Saya kasih 9 saja, sebagai upah nulis. Aku bergegas keluar lokal, coz perut keroncongan. Beberapa menit kemudian aku masih mondar-mandir di muka di sepanjang lokal. Bukannya mau gaya-gaya sih atau sok gimana gitu, tapi suer sandalku banyak fansnya. Terpaksa aku pulang bersama sandal gabin hitam yang mengharukan, sampai-sampai pemiliknya aja teralu malu melihatnya. Di kantin……. Aku berduka….. karena lontong habis. Sebenarya di kelas aku nggak hanya mikirin نائب الفاعل, namun lontong juga. Lagi-lagi terpaksa makan wadai yang….. Mau gimana lagi, keduluan orang.
Ulangan jam kedua. Di lokal…….. Lughatul Arabiyyah. Seperti yang sudah kukatakan nggak terlalu sulit. Tapi ada gangguan datang dari orang sebelah. Ini benar-benar orang sebelah lho. Yang duduk di sebelahku, di seberang jalan itu. Dia tuh nyontek agresif luar biasa. Patut diancungi jempol. Tapi tetap aja ketahuan pengawasnya. Biasanya kalau pengawas yang satu ini nemuin ada yang nyontek, nggak langsung beliau keluarkan, tapi tempat duduk pelakunya saja yang dipindah ke tempat duduk pengawas. Benar-benar hal yang memalukan. Apalagi pas ada ustadz-ustadz yang keliling lokal, bah… bakal jadi tontonan dah. Dan sialnya lagi misalnya kebetulan satu di antara ustadz yang keliling itu adalah wali kelas sendiri. Nah yang jadi pertanyaan di sini, apakah orang sebelah ini juga akan mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya? Ternyata tidak, dia dibiarkan duduk manis di alamnya. Malah pengawas yang mulia ini mempersilahkan aku yang duduk di kursi pengawas! “Biar aman,” dalih beliau. Aman-aman tapi malu, pikirku. Lagi-lagi terpaksa (kenapa pemeran utama mulu yang terpaksa, kayak di sinetron?) aku duduk di kursi pengawas. Malu? Pastinya, iya. Apalagi ustadz pemegang Lughatul Arabiyyah datang. “Di sini kurang kursinya kah?” tanya beliau kada tahu-tahu muha. Kubalas aja, aku juga kada tahu-tahu muha. Inilah ulangan yang benar-benar ujian.[]
Pyuuuu…..h…. Sembilan hari yang melelahkan usai juga, ulangan akhir semester.
Aku rasa ulangan kali ini adalah ulanganku yang paling laknat selama ini! Nggak, aku nggak bunuh teman karena nggak dikasih contekan, kok. Hanya saja ulangan kali ini aku suka nanya petunjuk (iya…iya… maksudku nyontek).
Jauh-jauh hari aku ini punya pantangan nyontek, kecuali pas terdesak (sama ae lah…). Aku ini anak pondokan klasik-moderen, jadi sekolah dibagi dua, pagi agama, sedangakan siang untuk umum. Nah yang menjadi benang merah di sini adalah kalo agama aku cukup jago, kalo umum lumayan bego. Dengan kata lain pas ulangan pondok, aku nggak bakalan jadi jerapah. Tapi jika pas ulangan umum, bah kemampuanku melebihi intelijen! (Ngorek informasinya)
Aku jadi teringat ulangan tempo doeloe (duh… sok kakek-kakek), aku benar-benar coo l (ini dalam kasus ulangan agama), soalnya aku benar-benar jenius. Tapi pas ada yang nanya jawaban, aku beri. Minta contekan nggak, ngasih iya. Namun seiring berlalunya zaman, semuanya tinggal kenangan.
Aku masih ingat benar, ulangan semester ganjil lalu aku berusaha mati-matian mempertahankan keperawanan nilaiku. Benar, aku nggak nyontek satu kali pun. Saking sok sucinya, aku merasa sangat hina dikala bingung akan suatu pertanyaan, eh… tau-tau (siapa ya? Aku lupa) dibelakang bisik-bisik (aku dengar) sama teman seberangnya:………………………:ان النبي صلي الله ڠليهم وسلم قالItu dia jawabannya. Aku jadi bingung musti senang atau sedih? Tapi intinya waktu itu jawabannya langsung kutulis, soalnya mubazir kalau terbuang sia-sia (maksa banget!)
Sekarang? Hah……. Entah berapa jumlah jawaban ilegal yang nangkring di lembar jawabanku. Meskipun aku rangking satu, itu takkan membuatku bangga sepenuhnya (terlebih si Rainbow minta ditraktir ke warnet jika aku rangking wahid, hu… hu…64237097 kali).
Akhirul kalam, semoga aku diampuni-Nya. Dan juga si Rainbow, nanti ke warnet jangan lama-lama (kayak optimis rangking satu aja) dan kudo’akan semoga kau lupa dengan nadzar ini.
Saat umurku dua bulan, ayahku meninggal, berarti ibuku menjanda. Ibuku itulah satu-satunya yang mengajariku bagaimana trik masuk surga.
Kata ibuku, ayahku orang yang budiman. Makanya dia berujar,”Sayang, pokoknya apa yang kamu mau, bisa didapatkan di surga. Bahkan kamu bisa bertemu ayahmu di sana.”
Diajak shalat, aku manut saja, karenadua alasan :pertama,mushalla komplek, tempat biasa aku shalat, adalah sekaligus tempat bermain di malam hari, kedua, aku ingin masuk surga!
Disuruh puasa, aku menurut juga karena dua alasan,: pertama, aku malu sama teman-teman jika tidak puasa sebab semuanya puasa, kedua, aku ingin masuk surga!!
Diajari ngaji oleh Ustadz Raffi, yang sekaligus merangkap jadi ayah baruku, aku sanggupi juga karena dua alasan: pertama, aku takut dimarahinya, kedua aku ingin masuk surga!!!
Orang kebanyakan jika ditanya, kenapa ingin masuk surga? Jawabannya mungkin adalah ingin merasakan betapa lezatnya nikmat di surga. Namun aku tidak demikian. Aku punya motif terselubung. Tapi sayang, untuk sementara aku malas membicarakannya. Mohon jangan paksa aku.
*****
Awalnya sebelum Ustadz Raffi menikahi ibuku, dia mengajarkan mengaji di mushalla komplek, dan tinggal di rumah sewaan yang cukup jauh dari pemukiman, tepatnya di sebelah timur komplek.
Sewaktu Ustadz Raffi baru bermukim di komplek Kayuh Baimbai ini, warga tidak terlalu mengenalnya, bahkan sampai saat ini. Terhitung dari tiga tahun silam, saat di mana Ustadz Raffi terseok-seok menjinjing tas besar, hingga sekarang, dia dikenal hanya sebatas santri dari sebuah pondok pesantren di Jatim. Cuma sampai di situ. Tak lebih barang sedikit pun. Terkecuali setelah dia menikah dengan ibuku, ada sedikit tambahan, namun aku tak ingin mengatakannya saat ini.
Kala itu berhubung penggawa mushalla komplek telah menginjak usia udzur dan ingin beristirahat, bidikan menancap pada Ustadz Raffi, yang ternyata seorang pengangguran, sebagai pengganti.
Jadilah dia yang mengelola mushalla. Dan orang ini membuka TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).Setelah dia duduk bersama ibuku di pelaminan, dia melepas TPA-nya, dan dilanjutkan oleh penerus.
“Biar lebih khusyu’ ibadah dan fokus mengurus rumahtangga,” katanya.
Benar- benar selaksa malaikat. Siapa yang tidak bangga punya ayah baru seumpama ini?
*****
Jikabel pulang bertugas, aku selalu melongo. Bukannya aku anak yang kelewat manja, tetapi aku benar-benar iri lagi dengki, kalau aku mendapati tubuh mungilku ini di gerbang SDN Surgi Mufti 5.
Selalu saja aku melewati gerbang ini sebatangkara. Sedangkan Andini ditunutun ayahnya yang polisi itu. Kalau Mia, anak manja itu, pasti menempel di punggung ayahnya.
Kalau Ayah sibuk, setidaknya Ibu atau Kakak yang menjemput. Seperti Sabrina, selalu ibunya yang menyambut di gerbang. Untuk Andre, kakaknya yang turun tangan.
Walau ingin, tapi aku tak ingin egois. Kasihan ibuku. Secara fisik, dia tidaklah tampak memiliki jantung yang lemah, namun sebenarnya,sudah tiga tahun ini Beliau bolak-balik ke dokter jantung.Mana mungkin aku menerima tawaran ibuku tercinta untuk menjemputku, sementara suatu saat dia bisa saja tumbang.
Ayah baruku?Kelihatannya dia tak punyainisiatif sedikit pun untuk menjemputku. Entah mengapa. Sibuk ibadah, mungkin. Aku pun tak ingin dijemput olehnya. Itu ada alasannya. Untuk sementara aku malas membicaraknnya. Mohon jangan paksa aku.
*****
Sepulang sekolah ada kegemparan. Di jalan depan gerbang sekolah, teman-teman ramai. Aku memaksa menyeruak masuk ke kerumunan, sampai-sampai buku latihan bahasa Indonesia-ku, yang dijejali nilai sempurna, lecek.
Di tengah kerumunan itu ada Erika yang nangis-nangis. Seseorang, yang aku ya-kini dia adalah ayah Erika, menenangkannya. Di sudut kerumunan kulihat ada pria dengan pakaian acak-acakan. Dia terkapar bersama wajah bonyoknya.
“Ada apa?” tanyaku pada Rio.
“Preman itu tadi mau memalak Erika. Untung, ayah Erika keburu datang.Habis itu premannya marah-marah dan ngajakin be-rantem. Untung ayah Erika hebat be-rantemnya. Mampus tuh preman. Rasain lho!”
Wah … aksi heroik!
Teman-teman , semuanya tepuk ta-ngan dan teriak,
“Hore…! Hore….!”
Perlahan Erika akhirnya tersenyum. Pasti bangga kepada ayah yang melindunginya itu.
Oleh suatu perasaan, aku tertarik mundur dari khalayak dalam bisu. Bahuku guncang. Mohon jangan usik aku dengan pertanyaan,”Kenapa kamu nangis?”
*****
Hari ini Bu Asmarina, guru bahasa Indonesia kami, memberi tugas menga-rang dengan tema “ayah”. Lantas aku pura-pura sakit. Cukup menerapkan pose menelungkupdi meja,akuyangmuridteladan ini tentu akan ditanya Bu Asmarina,
“Kamu sakit, Rina?”
Aku mengangkat wajah.
“Rina, muka kamu pucat!” tanggap Bu Asmarina.
Pucat? Oh iya, belakangan ini aku memang sulit tidur karena suatu alasan.
Beberapa menit sesudahnya, siapa pun bisa menemuiku di UKS. Aku tersedu sepeninggal Novi, teman sebangkuku yang tadi mengantarku ke sini.Atas permohonanku sendiri dengan alasan supaya dia tidak ketinggalan pelajaran, dia mau meninggalkanku. Aku tak ingin dilihat seseorang di saat seperti ini.
Inilah wujud asliku. Sepintas aku adalah tembok Cina, sangat tegar. Kalau saja mau lebih jeli sedikit, aku ini tak lebih kuat dari kayu dengan luka akibat rayap, lapuk, sangat rapuh. Atau kausebut saja aku agar-agar.
Bu Asmarina pasti tidak curiga bahwa aku lari dari tugas kali ini. Terserah jika ingin mengataiku sombong, namun aku ini benar-benar jenius. Dan di antara matapelajaran yang mudah itu, Bahasa Indonesia paling kukuasai. Bukan apa-apa. Aku Cuma hendak memastikan bahwa Bu Asmarina tak mungkin mencurigaiku.
Otak kananku bisa saja mengarang karakter ayah super. Dan itu akan mendustai diri sendiri, pikirku, jika kulakukan. Mungkin saja aku mengambil sampel ayahnya Erika, tapi itu hal memalukan. Otak kiriku mendobrak-dobrak daya khayalku dengan segala realita yang digiringnya, kenyataan yang pahit.
*****
Suatu kali aku ingin mengutarakan bebanku kepada Ibu. Tapi saat pupil mataku menangkap sosok itu, bersileweran jantung-jantung yang kapan pun bisa mogok mendadak. Aku tak setega itu.
Lain kali ibu mendapatiku menangis di kamar. Sebetulnya ibuku baru datang dari pengajian malam Minggu, pulang sehabis isya.
“Ayah, Rina kenapa?” tanya ibu, hampir berbenturan dengan ayah baruku di muara pintu kamarku.
“Nggak tau. Dari tadi nangis terus. Ditanya kenapa, dia diam saja. Tolong ibu saja yang menenangkannya. Saya mau keluar dulu,” cerocos ayah baruku.
Dia pun berlalu sambil berdehem. Deheman berat yanghanya dipahami oleh sebagian orang.
Ibu masuk ke kamar, lalu mengusap ubun-ubunku. Sedari tadi aku memeluk lutut dan menyembunyikan wajah di baliknya.
“Sayang, ada apa?” Suara ibu lembut.
Hampir saja aku gegabah dengan menyampaikan kesulitanku, jika aku tidak mengangkat kepala, menatapnya. Benar, jantung-jantung itu masih hilir mudik.
“Sayang, cerita dong sama mama, ada apa?”
Aku cepat-cepat menghapus airmata, dan menggeleng. Sedetik kemudian, aku tenggelam di dekapan Ibu.
*****
Semoga saja tidak terlambat, kenalkan, ini ayah baruku. Orang itu tidak bekerja lagi semenjak menikah dengan ibuku. Dia beralasan, seperti yang sudah kukatakan, agar fokus ke ibadah dan rumahtangga. Dia tidak lagi sibuk dengan dunia. Malaikat, bukan?
Jika aku sering menjatuhkan airmata ibu dengan prestasi, malaikat ini pun sering menguras airmataku. Ah, tahukah, betapa pilunya bagian yang kedua itu? Di situlah perbedaannya.
Hari ini pun, saat Ibu tak ada, aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tak sempat kabur ketika menyadari malaikat hadir dengan seringainya. Bahkan hari ini lebih menyakitkan dari sebelum-sebelum ini. Aku berdarah-darah lebih melimpah. Sama melimpahnya dengan airmataku.
Sungguh selama ini, aku ingin beramah-tamah, tetapi kali ini, aku sudah tak tahan lagi. Sebetulnya malaikat itu iblis! Jauh-hauh hari telah kukatakan, ada sedikit tambahan informasi setelah dia menikahi ibuku, yaitu dia punya kelainan.
Hatiku perih mendengar derekan resleting. Apalah arti kecerdasan. Apa gunanya prestasi? Piala berderet-deret itu cuma diam! Lagi-lagi lenguhan itu menghujam bayang-bayang masa depanku, yang telah suram lagi curam.
Jauh di alam kalapku, pisau dapur itu kuinginkan mengakhiri segalanya. Apakah aku atau iblis itu yang harus meninggalkan nama di nisan? Terserah!
Lagi-lagi aku disentak sesuatu. Seandainya itu kulakukan, aku takkan ma-suk surga. Padahal aku aku ada keperluan di sana.
Mentalku remuk berserpih-serpih. Jika diperbolehkan, izinkan aku melibat-kanmu di cerita ini. Jadilah tempat cur-hatku. Baiklah, kau sebenarnya ingin tahu apa alasanku masuk surga, meski itu tak penting bagimu.
Aku ini masih bocah, mempunyai keinginan seperti Erika! Jika masuksurga, aku cuma ingin mengatakan pada ayahku di sana, bahwa aku sungguh membutuhkan ayah, yang sebagian darahnya mengalir di diriku. Aku ingin mengadu kepadanya bahwa ayah baruku telah menyakitiku, tak berperasaan. Aku minta belas kasihan, pembelaan, seperti Erika.
Aku tak butuh ayah baru macam iblis laknat terkutuk itu! Sekali lagi kutegaskan, aku butuh ayah yang melindu-ngiku, bukan yang suka meniduriku!!! []